• Berdiri Sendiri

    28th Desember, 2013 nhmedia Belum ada komentar Pilihan/Tauhid
  • Allah maha Kuasa, Allah namanya dzat, maha kuasa namanya sifat. Jadi setelan arod dengan jirim, setelan sifat dengan dzat.

    berdiri sendiriPontren-nurulhuda.com,- Benda dalam bahasa arabnya jirim, setiap jirim membutuhkan hiyaz atau ruang pas, hiyaz dalam ilmu tauhid disebut makan atau tempat. Kalau batu dimasukan ke dalam gelas yang dipenuhi air maka air akan meluber karena tempatnya diserobot batu, sebesar apa batu yang dimasukan,  sebesar itu pula air yang keluar dari gelas tidak kurang dan tidak lebih.

    Ini artinya batu membutuhkan makan (tempat), Allah tidak membutuhkan makan (tempat) karena Allah bukan benda (jirim). Ingat Allah itu dzat bukan jirim.

    Kalau kita melihat baju merah, baju dan merah berlainan, baju baju merah merah. Merah atau warna apa saja itu namanya sifat, selamanya yang namanya sifat perlu untuk menempel, merah bisa nempel pada baju, pada dimobil, pada rumah atau pada apa saja.

    Warna itu sifat (arod), selamanaya membutuhkan tempat untuk menempel, tempat menempel warna ini disebut mahal (tempat). Jadi jirim membutuhkan makan, sifat atau membutuhkan mahal. Allah tidak membutuhkan mahal, sebab yang membutuhkan mahal itu sifat, Ingat Allah itu dzatbukan sifat.

    Allah Qiyamu Binafsih, artinya berdiri sendiri, tetapi memaknai berdiri sendiri jangan disamakan dengan memahami berdiri sendirinya manusia, seperti contoh, dulu dia karyawan sekarang sudah berdiri sendiri. Kalau mengartikan berdiri sendiri Allah seperti itu akan menjadi pemahama yang sesat dan menyesatkan.

    Arti berdiri sendiri (qiyamu binafsih) yaitu Allah tidak membutuhkan makan (tempat) karena bukan jirim, dan Allah tidak membutuhkan mahal (tempat) karena bukan sifat.

    Pengertian ini baru separuh dari makna Qiyamu Binafsih, masih ada separuh lagi agar makna  Qiyamu Binafsih lengkap dan sempurna secara akidah. Yaitu Allah tidak membutuhkan pencipta. Sebab kalau Allah diciptakan maka Allah ada awalnya, kalau ada awalnya maka Allah akan ada akhirnya.

    Jadi makna legkap dari Qiyamu Binafsih, Allah tidak membutuhkan tempat (makan-mahal) dan Allah tidak memerlukan pencipta.

    Masih ada istilah tempat yang tidak dibutuhkan Allah, yaitu tempat seperti tempat kita ini, yang meliputi diatas, dibawah, dikiri, dikanan, didepan, dibelakang, berpisah, menempel dan lain sebagainya. Tempat tempat ini tidak dibutuhkan Allah karena masuk kepada makulat (pertanyaan) aina (dimana), Allah tidak bisa ditanyakan dengan pertanyaan dimana.? berapa.? seperti apa.? sejak kapan,? Pertanyaan pertanyaan itu hanya berlaku untuk makhluk, karena pertanyaan Allah seperti apa sudah dianulir dengan sifat Mukholafah.

    Maka ketika dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan tempat, bukan hanya tempat seperti tempat kita berdiam yang tidak dibutuhkan, tetapi tidak diyakini bahwa Allah tidak berbentuk jirim dan tidak seperti sifat (arod). Allah tidak mebutuhkan pencipta.

    Merah, kuning, hijau atau warna apa saja itu merupakan sifat, sebenarnya istilah sifat itu kurang tepat, sebab sifat itu hanya milik Allah, yang benar warna itu namanya arod. Si Pulan pandai, si Pulan jrim, pandai itu arod, mobil merah, mobil jirim merah arod. Allah maha Kuasa, Allah namanya dzat, maha kuasa namanya sifat. Jadi setelan arod denga jirim, setelan sifat dengan dzat.

    Qiyamuhu Binafsih sebagai sifat Allah yang harus diyakini, didalam Al-Quran disebut dengan sebutan Al-Qoyyum, yang artinya berdiri, diambil dari kata Qoma, maksudnya berdiri sendiri yang artinya seperti dijelaskan tadi.

    اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

    Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup lagi berdiri (qiyamu binafsih) (Ali Imron ayat 2).

     

    Artikel Terkait :